You’are
my First
Baru kali ini bener-bener putus
sama yang satu ini. Pacar pertama aku, dengan hubungan yang sering
putus-nyambung dan setelah diakumulasikan waktu kita pacaran termasuk masa-masa
putusnya adalah 4tahun 10bulan. Pertama kalinya aku bisa bertahan putus sama
dia sampai 2bulan kayak gini. Pertama kalinya berhenti nangis saat putus sama
dia. Miris memang, pacaran selama itu harus kandas ketika aku berada dipuncak
kejenuhan. Abis dianya gak bisa ngerti, harus terus aja aku yang ngikutin apa
yang dia mau. Aku pacaran sampai 4tahun ini tuh pacaran LDR, long distance
relationship. Konyol memang, ketemu jarang tapi pacaran bisa selama itu. Faktor
hati sih kata orang. Hahaha. Temen-temen aku yang sering dengerin cerita aku
sama dia sampai-sampai menganggap pacaran aku sama dia kayak sinetron katanya.
Setiap aku nyeritain tentang pacarku itu, mereka suka nanya duluan ‘Session
keberapa cerita yang sekarang?’. Saking banyaknya tuh cerita aku sama dia. Hhe
Waktu
4tahun 10bulan itu kalo harus dibikin seri bukunya kayaknya gak akan muat
dengan 4buku aja. Hhe. Cerita pertama kenalnya, pertama dia nelpon, pertama dia
bilang sayang, pertama diselingkuhin, pertama berselingkuh, pertama dikasih
barang, pertama ngomong sama calon mertua, pertama dimarahin calon kaka ipar,
dan pertama-pertama lainnya yang bakal ngabisin ribuan lembar kertas yang amat
sangat berkesan sebagai tanda berwarnanya kehidupan aku. Terimakasih banget
buat dia yang selalu membuat hidup aku berwarna, selalu membuat hati aku
terbolak-balik, selalu membuat mood aku naik-turun, selalu membuat aku malas
belajar atau malah sebaliknya, selalu membuat aku sangat semangat belajar. Dari
dia aku belajar kasih sayang, kasih sayang yang tulus, bahwa memberi tak harus
menerima, bahwa ikhlas berbuah kebahagiaan, bahwa menyayangi adalah suatu
kewajiban, bahwa Alloh adalah Maha segalanya, dan bagi aku dialah segalanya
setelah aku menyayangi Alloh dan kedua orang tuaku.
Tapi
hanya ada satu hal yang paling aku benci dari dia, dia itu terlalu menyayangi
aku. Aku hanya ingin dicintai secara sederhana. Aku berasa tak berhak menerima
perlakuan seperti ini dari makhluk sempurna seperti dia. Aku sadari akhir-akhir
ini, rasa yang aku miliki untuknya malah cenderung seperti mengidolakannya
padahal kita jarang sekali bertatap muka. Mengagung-agungkan kesempurnaanya,
sekalipun aku diajarkannya bahwa tak ada manusia yang sempurna. Namun dimataku
dialah pengecualiannya. Dia begitu sempurna, baik fisik maupun hati. Karena itu
juga aku merasa terlalu berharap banyak untuk mendapatkan kebahagiaan yang
sempurna sesempurna dia. Ternyata Alloh berkehendak lain, ‘Alloh tak selalu
memberi apa yang kita inginkan, tapi Alloh selalu memberi apa yang kita
butuhkan’. Begitu juga dengan hubungan aku bersama dia. Jarak yang memisahkan
membuat semuanya terasa begitu berat untuk diakhiri. Aku masih memahami
kekurangan intensitas pertemuan antara aku dengan dia ketika kita masih
dipisahkan oleh jarak. Namun aku merasa sangat dibodohi ketika aku kini berada
sekota dengan dia, berada dekat dengan kehidupan dia terdahulu. Ketika aku
menapakkan kaki dikota yang sering dia ceritakan dulu, aku malah menemukan
kekosongan. Kepindahan dia dari kota ini membuat aku sangat terpukul. Membuat
aku sangat membenci dia. Dia lah motivator terbesar buat aku setelah cita-citaku
untuk bertahan dikota ini sekalipun jauh dari mama dan papa.
Takdir
berkata lain, semua yang terbayang akan terasa indah kini malah terasa sangat
memilukan hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri episode kehidupanku
dengan dia. Lelaki sebaya pertama yang
aku sayangi setulus hati, lelaki yang telah menjanjikan akan menjadi ayah dari
anak-anaku kelak. Setumpuk sesal masih tersimpan, penyesalan bukan karena
menyudahi hubungan itu, melainkan penyesalan dari ketidakadilan yang belum
berpihak padaku dan dia.
Kini
aku sedang menatapi seikat mawar merah, putih dan kuning yang aku temukan
didepan kamarku. Aku meyakini bunga itu dari dia. Bunga yang dulu dia janjikan
akan dia berikan ketika aku untuk pertama kalinya akan bertemu dengan dia
dikota yang sedang aku diami sekarang ini. Aku bertahan dikota ini dengan
seribu bayangan dia yang tak akan pernah hilang. Aku berharap dia akan kembali
membawa serpihan ceritanya bersamaku dan melanjutkan semua yang sempat
tertunda. Kini hanyalah pesan-pesan yang datang secara tiba-tiba dan malah
pending ketika aku membalasnya yang menemani hari-hariku akhir-akhir ini. Aku
mengaguminya dengan segala kemisteriusannya. Aku sungguh menyayanginya jauh
dari apa yang dia kira selama ini.
0 komentar:
Posting Komentar